Senin, 16 Juli 2012

ASKEP KOMUNITAS

ASUHAN KEPERAWATAN MASYARAKAT

· Konsep Keperawatan Kesehatan Masyarakat
· Kerangka Konsep Kesehatan Masyarakat

Kerangka Konsep Kesehatan Masyarakat
Puskesmas (Perawatan Kesehatan Masyarakat), merupakan bidang khusus (spesialis) dalam ilmu keperawatan (Freeman, 1960), yang merupakan gabungan Ilmu Keperawatan, Ilmu Kesehatan Masyarakat dan Sosial (WHO, 1950).
Suatu bidang dalam keperawatan yang merupakan perpaduan antara keperawatan dan kesehatan masyarakat dengan dukungan peran serta aktif masyarakat (Rapat Kerja Keperawatan Kesehatan Masyarakat, 1989).

Ada 3 Teori yang menjadi dasar (Komponen) Ilmu Keperawatan Kesehatan Masyarakat :
1. Ilmu Keperawatan
2. Kesehatan Masyarakat
3. Sosial (Peran Serta Masyarakat)
Ilmu Keperawatan


Sosial
(Peran Serta Masy) Kesehatan Masyarakat
Konsep Keperawatan dikarakteristikkan oleh 4 (empat) konsep pokok, Yang meliputi Konsep Manusia, Kesehatan, Masyarakat dan Keperawatan (Christina, Ibrahim, 1986)
Paradigma Keperawatan

Manusia

Kesehatan Keperawatan

Masyarakat

Pengertian Masyarakat
1. Masyarakat adalah sekumpulan manusia yang saling bergaul, saling berinteraksi. (Koentjoroningrat, 1990)
2. Masyarakat merupakan kesatuan-kesatuan hidup manusia, yang dalam bahasa Inggrisnya dipakai istilah Society, yang berarti kawan. Istilah lain masyarakat berasal dari bahasa Arab yang berarti ikut serta, berpartisipasi

Ciri-Ciri Masyarakat seperti yang dikemukakan oleh kuntjaraningrat (1990) adalah sebagai berikut :
1. Interaksi antar warga-warganya
2. Adat istiadat, norma-norma, hukum-hukum dan aturan khas yang mengatur seluruh pola tingkah laku warga kota atau desa
3. Suatu komunitas dalam waktu
4. Suatu rasa identitas kuat yang mengikat semua warga

Kesimpulan Pengertian Masyarakat adalah
Kesatuan hidup manusia yang berinteraksi menurut suatu sistem adat istiadat tertentu yang bersifat kontinyu, dan terikat oleh suatu rasa identitas bersama (Koentjoroningrat, 1990)

Unit-unit Masyarakat
Unit-unit masyarakat adalah :
Komuniti / Komunitas, Keluarga, Kelompok yang memiliki tujuan dan nilai yang sama.

Koentjoroningrat (1990) mendefinisikan komunitas sebagai suatu kesatuan hidup manusia, yang menempati suatu wilayah nyata, dan yang berinteraksi menurut suatu sistem adat istiadat tertentu, serta terikat oleh suatu rasa identitas suatu komunitas.
Ciri-ciri komunitas :
1. Kesatuan wilayah
2. Kesatuan adat istiadat
3. Rasa identitas komunitas
4. Loyalitas terhadap komunitas

Masyarakat sebagai suatu sistem sosial menunjukkan bahwa semua orang bersatu untuk saling melindungi dalam kepentingan bersama, dan berfungsi sebagai suatu kesatuan dan secara terus menerus mengadakan hubungan / interaksi dengan sistem yang lebih besar.
Bagian-bagian yang saling berinteraksi, tersebut merupakan sub-sistem dari komuniti seperti pendidikan, kesehatan, kesejahteraan dan keluarga.

Keluarga adalah suatu kelompok yang terdiri dari dua orang atau lebih, yang dipersatukan oleh hubungan darah, perkawinan, adopsi atau pengakuan sebagai anggota keluarga yang tinggal bersama, satu kesatuan / unit yang membina kerjasama yang bersumber dari kebudayaan umum, dimana setiap anggotanya belajar dan melakukan perannya seperti yang diharapkan.
Keluarga sebagai suatu sistem sosial melakukan beberapa fungsi yang paling dasar seperti memberikan keturunan, sosialisasi, psikologi, seleksi, proteksi dan sebagainya.
Dalam keperawatan kesehatan masyarakat keluarga sebagai unit utama yang menjadi sasaran pelayanan, karena keluarga merupakan unit terkecil dari masyarakat atau komuniti.
Apabila salah satu diantara anggota keluarga mempunyai masalah kesehatan, atau masalah keperawatan akan mempengaruhi anggota keluarga yang lain. Demikian pula terhadap kelompok dan masyarakat sekitarnya.
· Masalah kesehatan keluarga saling berkaitan terhadap anggota keluarga, kelompok maupun masyarakat secara keseluruhan, yang akhirnya memberikan gambaran terhadap masalah kesehatan masyarakat secara keseluruhan.

2 Istilah penting berkaitan dengan perawatan kesehatan masyarakat
· Public Health Nursing (PHN), Istilah lama seperti halnya terdapat dalam buku kaya Ruth B. Freeman yang berjudul Public Health Nursing Practic (1961).
· Tetapi dalam buku Ruth B. Freeman yang berjudul Community Health Nursing Practic(1981) freeman menggunakan istilah Komuniti bukan public.
Public Health Nursing (PHN), mengandung pengertian yang sangat luas, tidak terbatas, misalnya masyarakat Indonesia, Masyarakat Jakarta, masyarakat Jepang dan sebagainya.

Community Helath Nursing (CHN), comuniti artinya masyarakat terbatas yang mempunyai persamaan nilai, perhatian (interest), yang merupakan kelompok khusus dengan batas-batas geografi yang jelas, dengan norma dan nilai yang telah melembaga. Misalnya masyarakat suku terasing, masyarakat sekolah, masyarakat pekerja, masyarakat petani dan dalam bidang kesehatan kita kenal dengan kelompok ibu hamil (bumil), ibu bersalin, ibu menyusui (buteki), ibu nifas (bufas), kelompok lanjut usia (lansia) kelompok anak Balita kelompok masyarakat dalam desa / daerah binaan dan sebagainya.
Dengan demikian dalam pembinaannya akan lebih mudah, karena telah diketahui karakteristik dari tiap-tiap kelompok.
Dalam perawatan kesehatan masyarakat / Community Health Nursing (CHN), Komuniti merupakan sasaran yang dibina atau mendapatkan pelayanan kesehatan adalah keyakinan terhadap nilai-nilai kemanusiaan yang menjadi pedoman dalam melaksanakan askep kesehatan masyarakat baik ditujukan pada individu, keluarga, kelompok dan masyarakat sebagai sasaran pelayanan kesehatan dan keperawatan, Health (kesehatan) adalah tujuan yang ingin dicapai, Nursing (keperawatan) adalah pelayanan yang ingin diberikan. Dan inilah inti dari perawatan kesehatan masyarakat.
MASYARAKAT
Masyarakat adalah sekelompok manusia yang telah hidup lama dan bekerja sama cukup lama sehingga mereka dapat mengatur diri mereka dan menganggap diri mereka sebagai suatu kesatuan sosial dengan batas-batas yang telah ditetapkan. Masyarakat adalah kelompok individu yang saling berinteraksi, saling tergantung dan bekerjasama untuk mencapai tujuan.
Dalam berinteraksi sesama anggota masyarakat muncul banyak permasalahan, apakah permasalahan sosial budaya, perekonomian, politik maupun kesehatan khususnya.
Masalah Kesehatan Masyarakat
Dapat bermula dari perilaku individu, keluarga, atau perilaku-perilaku kelompok masyarakat dalam banyak hal diantaranya adalah berkaitan dengan kesehatan lingkungan, misalnya membuang sampah sembarangan, buang air besar (BAB) disungai yang digunakan orang banyak sebagai MCK(mandi, cuci, kakus), dan aktivitas lainnya. Masalah gizi dimana pengetahuan keluarga tentang gizi kurang, cara pengolahan gizi yang salah, kebiasaan makan yang berkaitan dengan pantangan dan kurangnya kemampuan sosial ekonomi.
Disamping itu anggapan masyarakat tentang pengertian sakit dimana yang dikatakan sakit itu adalah tidak mampu lagi berbuat sesuatu, dan kalau masih batuk pilek, pusing dan gangguan kesehatan ringan belum dikatakan sakit. Hal lainnya yang masih memprihatinkan adalah pemanfaatan sarana / pelayanan kesehatan masih sangat rendah, misalnya pemeriksaan kesehatan, kehamilan, imunisasi anak ke puskesmas atau posyandu dan sebagainya. Kebiasaan-kebiasaan yang melekat dan telah membudaya dalam pemeliharaan kesehatan gizi, dan pertolongan persalinan, karena faktor ketidaktahuan, akan memberikan kontribusi yang besar dalam meningkatkan angka kesakitan dan kematian pada masyarakat.
· Bertitik tolak masalah- masalah tersebut, maka keberadaan perawat kesehatan masyarakat bersama tim kesehatan lainnya sangat diperlukan untuk mengatasi berbagai masalah kesehatan yang terjadi ditengah-tengah masyarakat dalam rangka meningkatkan kemampuan masyarakat untuk hidup sehat dalam mencapai derajat kesehatan yang optimal.
Ruang Lingkup
Ruang lingkup praktik perawatan kesehatan masyarakat meliputi upaya-upaya :
1. Peningkatan kesehatan (promotif),
2. Pencegahan (preventif)
3. Pemeliharaan Kesehatan dan pengobatan (curatif)
4. Pemulihan Kesehatan (rehabilitatif)
5. dan Mengembalikan serta memfungsikan kembali baik individu, keluarga dan kelompok-kelompok dalam masyarakat ke lingkungan sosial dan masyarakat (resosialitatif)
Upaya Promotif
Upaya ini dilakukan untuk meningkatkan derajat kesehatan individu, keluarga, kelompok dan masyarakat dengan jalan memberikan :
1. Penyuluhan kesehatan masyarakat
2. Peningkatan gizi
3. Pemeliharaan kesehatan perorangan
4. Pemeliharaan kesehatan lingkungan
5. Olah Raga teratur
6. Rekreasi
7. Pendidikan seks
KEPERAWATAN KOMUNITAS

Tingkatan Pencegahan / Preventif Dalam Praktik Kesehatan Komunitas
· Konsep pencegahan (preventif), adalah komponen kunci dalam praktik kesehatan komunitas modern.
· Dalam terminologi populer, pencegahan berarti menghindari suatu kejadian sebelum terjadi.
· Dalam kesehatan komunitas kita menggunakan 3 tingkatan pencegahan yaitu : Primer, Sekunder dan Tersier
  1. Pencegahan Primer
· Adalah usaha sungguh-sungguh untuk menghindari suatu penyakit atau tindakan kondisi kesehatan yang merugikan melalui kegiatan promosi kesehatan dan tindakan perlindungan.
· Pencegahan primer mencakup area penanganan yang sangat luas, termasuk nutrisi, kebersihan, sanitasi, imunisasi, perlindungan lingkungan dan pendidikan kesehatan umum.
Contoh pencegahan primer
· Penelitian tentang penyebab munculnya berbagai masalah kesehatan merupakan dasar dari upaya pencegahan primer
· Sebagai contoh : Penelitian John Snow tahun 1853 tentang Kolera, telah membuka jalan untuk penyediaan air murni/ bersih bagi para penduduk di London, dan kecelakaan kendaraan bermotor telah mendorong penggunaan sabuk pengaman dan balon udara.
  1. Pencegahan Sekunder
· Adalah deteksi dini dan pengobatan terhadap kondisi kesehatan yang merugikan. Pencegahan sekunder mungkin saja berhasil mengatasi penyakit yang tidak dapat diobati pada tahap akhir, mencegah komplikasi dan kecacatan, serta membatasi penyebaran penyakit menular. Satu komponen penting dalam pencegahan sekunder adalah Skrining, yaitu pemeriksaan terhadap penyakit Asimptomatik seperti TBC, Diabetes, Hipertensi
  1. Pencegahan Tersier
· Adalah pecegahan yang dilakukan jika penyakit atau kondisi tertentu telah menyebabkan kerusakan pada individu membatasi kecacatan dan merehabilitsi atau meningkatkan kemampuan masyarakat semaksimal mungkin.

Konsep Dasar Masyarakat dan Masalah Kesehatan
Definisi :
Kontjaraningrat (1990)
Masyarakat adalah sekumpulan manusia yang saling bergaul atau dengan istilah saling berinteraksi. Kesatuan hidup manusia yang saling berinteraksi menurut suatu sistem adat istiadat tertentu yang bersifat kontinyu dan terikat oelh suatu rasa identitas bersama.

Askep Komunitas
Keperawatan Kesehatan Masyarakat Pada Tingkat Masyarakat
Soerdjono Soekanto (1982)
Masyarakat atau komunitas adalah menunjuk pada bagian masyarakat bertempat tinggal disuatu wilayah (dalam arit geografi dengan batas-batas) tertentu, dimana yang menjadi dasarnya adalah interaksi yang lebih besar dari anggota-anggotanya, dibandingkan dengan penduduk diluar batas wilayahnya.

Mac Laver (1957)
Masyarakat adalah sekelompok manusia yang mendiami teritorial tertentu dan adanya sifat-sifat yang saling tergantung, adanya pembagian kerja dan kebudayaan bersama.

Linton (1936)
Masyarakat merupakan sekelompok manusia yang telah cukup lama hidup dan bekerja sama, sehingga dapat mengorganisasikan diri dan berpikir tentang dirinya sebagai satu kesatuan sosial dengan batas-batas tertentu.
Ciri-Ciri Masyarakat.
1. Interaksi diantara sesama anggota
2. Menempati wilayah dengan batas-batas
3. Saling tergantung satu sama lain
4. Memiliki adat istiadat tertentu / kebudayaan
5. Memiliki identitas bersama.
Interaksi
Didalam masyarakat terjadi interaksi yang merupakan hubungan sosial yang dinamis yang menyangkut hubungan antara perseorangan, antara kelompok-kelompok, maupun antara perseorangan dengan kelompok, untuk terjadinya interaksi sosial harus memiliki 2 syarat yaitu kontak sosial dan komunikasi.

Wilayah Tertentu
Suatu kelompok masyarakat menempati suatu wilayah tertentu menurut geografis sebagai tempat tinggal komunitasnya. Baik dalam ruanglingkup kecil RT/RW, desa, kelurahan, kecamatan, kabupaten, propinsi dan bahkan negara.

Saling Ketergantungan
Anggota masyarakat yang hidup pada suatu wilayah tertentu saling tergantung satu dengan yang lainnya dalam memenuhi kebutuhan hidupnya. Tiap- tiap anggota masyarakat mempunyai keterampilan sesuai dengan kemampuan dan profesi masing-masing. Mereka hidup saling melengkapi, saling memenuhi agar tetap berhadil dalam hidupnya.

Adat Istiadat dan Kebudayaan
Adat istiadat dan kebudayaan diciptakan untuk mengatur tatanan kehidupan bermasyarakat, yang mencakup bidang yang sangat luas diantara tata cara berinteraksi antara kelompok-kelompok yang ada dimasyarakat, apakah itu dalam perkawinan, kesenian, mata pencarian, sistem kekerabatan dan sebagainya.

Identitas
Suatu kelompok masyarakat memiliki identitas yang dapat dikenali oleh anggota masyarakat lainnya, hal ini penting untuk menopang kehidupan dalam bermasyarakat yang lebih luas. Identitas kelompok dapat berupa lambang-lambang, bahasa, pakaian, simbol-simbol tertentu dari perumahan, benda-benda tertentu seperti peralatan pertanian, mata uang, senjata tajam, kepercayaan dan lain-lain.

Tipe-Tipe Masyarakat
Menurut Gilin and Gilin (dalam Nasrul Efendi, hal, 91) Masyarakat diklasifikasikan sebagai berikut :
A. Dilihat dari sudut perkembangannya
  1. Cresive Institution
Lembaga masyarakat yang paling primer, merupakan lembaga-lembaga yang secara tidak sengaja tumbuh dari adat istiadat masyarakat, misalnya yang menyangkut hak milik, perkawinan, agama dan sebagainya.
  1. Enacted Institution
Lembaga kemsyarakatan yang sengaja dibentuk untuk memenuhi tujuan tertentu. Misalnya yang menyangkut lembaga utang piutang, lembaga perdagangan, pertanian, pendidikan yang semuanya berakar dari kebiasaan-kebiasaan dalam masyarakat. Pengalaman-pengalaman dalam melaksanakan kebiasaan-kebiasaan tersebut disistematisasi yang kemudian dituangkan ke dalam lembaga-lembaga yang disahkan negara.
B. Dari sudut sistem nilai yang diterima oleh masyarakat
  1. Basic Institution
Adalah lembaga masyarakat yang sangat penting untuk memelihara dan mempertahan tata tertib dalam masyarakat, diantaranya keluarga, sekolah-sekolah yang dianggap sebagai institusi dasar yang pokok.
  1. Subsidari Institution
Lembaga-lembaga kemasyarakatan yang muncul tetapi dianggap kurang penting karena untuk memenuhi kegiatan-kegiatan tertentu saja. Misalnya pembentukan panitia rekreasi, pelantikan, wisuda bersama dan sebagainya.
C. Dari sudut penerimaan masyarakat
  1. Approved atau Social Sanctioned Institution
Adalah lembaga yang diterima oleh masyarakat seperti sekolah, perusahaan, koperasi dsb.
  1. Unsanctioned Institution
Adalah lembaga-lambaga masyarakat yang ditolak oleh masyarakat, walaupun kadang-kadang masyarakat tidak dapat memberantasnya, misalnya kelompok penjahat, pemeras, pelacur, gelandangan dan pengemis (gepeng) dan lain-lain.
D. Dari sudut penyebarannya
  1. General Institution
Adalah lembaga masyarakat yang didasarkan atas faktor penyebarannya. Misalnya agama karena hampir dikenal semua masyarakat dunia.
  1. Resticted Institution
Adalah lembaga-lembaga agama yang dianut oleh masyaarakat tertentu saja misalnya Budha banyak dianut oleh Muangthai, Vietnam, Kristen Katolik banyak dianut oleh masyarakat Italia, Prancis, Islam dianut oleh masyarakat Arab dsb.
E. Dari sudut fungsi
  1. Operative Institution
Adalah lembaga masyarakat yang menghimpun pola-pola atau cara yang diperlukan untuk mencapai tujuan lembaga yang bersangkutan, seperti lembaga industri
  1. Regulative Institution
Adalah lembaga yang bertujuan untuk mengawasi adat istiadat atau tata kelakuan yang tidak menjadi bagian mutlak dari pada lembaga itu sendiri, misalnya lembaga hukum diantaranya kejaksaan, pengadilan dan sebagainya.

Ciri-ciri Masyarakat Indonesia
Dilihat dari struktur sosial dan kebudayaan masyarakat Indonesia dibagi dalam 3 kategori dengan ciri-ciri sebagai berikut :
1. Masyarakat Desa
a. Hubungan keluarga dengan masyarakat sangat kuat
b. Hubungan didasarkan kepada adat istiadat yang kuat sebagai organisasi sosial
c. Percaya kepada kekuatan-kekuatan gaib
d. Tingkat buta huruf relatif tinggi
e. Berlaku hukum tidak tertulis yang intinya diketahui dan dipahami oleh setiap orang.
f. Tidak ada lembaga pendidikan khusus dibidang teknologi dan keterampilan diwariskan oleh orangtuanya kepada keturunannya
g. Sistem ekonomi sebahagian besar ditujukan untuk memenuhi kebutuhan keluarga dan sebagian kecil dijual dipasaran untuk memenuhi kebutuhan lainnya. Dan uang berperan sangat terbatas.
h. Semangat gotong royong dalam bidang sosial sangat kuat.
2. Masyarakat Madya
a. Hubungan keluarga masih tetap kuat, dan hubungan kemasyarakatan mulai mengendor.
b. Adat istiadat masih dihormati, dan sikap masyarakat mulai terbuka dari pengaruh luar.
c. Timbul rasionalitas pada cara berfikir, sehingga kepercayaan terhadap kekuatan-kekuatan ghaib mulai berkurang dan akan timbul kembali apabila telah kehabisan akal.
d. Timbul lembaga pendidikan formal dalam masyarakat terutama pendidikan dasar dan menengah.
e. Tingkat buta huruf sudah mulai menurun
f. Hukum tertulis mulai mendampingi hukum tidak tertulis.
g. Ekonomi masyarakat lebih banyak mengarah kepada produksi pasaran, sehingga menimbulkan deferensiasi dalam struktur masyarakat karenanya uang semakit meningkat penggunaannya.
h. Gotong royong tradisional tinggal untuk keperluan sosial dikalangan keluarga dan tetangga dan kegiatan-kegiatan umum lainnya didasarkan upah.
3. Masyarakat Modern
a. Hubungan antar manusia didasarkan atas kepentingan-kepentingan pribadi
b. Hubungan antar masyarakat dilakukan secara terbuka dalam suasana saling pngaruh mempengaruhi.
c. Kepercayaan masyarakat yang kuat terhadap manfaat ilmu pengetahuan dan teknologi sebagai sarana untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
d. Strata masyarakat digolongkan menurut profesi dan keahlian yang dapat dipelajari dan ditingkatkan dalam lembaga-lembaga keterampilan dan kejuruan.
e. Tingkat pendidikan formal tinggi dan merata
f. Hukum yang berlaku adalah hukum tertulis dan kompleks
g. Ekonomi hampir seluruhnya ekonomi pasar yang didasarkan atas penggunaan uang sebagai alat pembayaran.

Ciri-Ciri Masyarakat Sehat
1. Peningkatan kemampuan masyarakat untuk hidup sehat.
2. Mengatasi masalah kesehatan sederhana melalui upaya peningkatan, pencegahan, penyembuhan penyakit dan pemulihan kesehatan terutama untuk ibu dan anak.
3. Peningkatan upaya kesehatan lingkungan terutama penyediaan sanitasi dasar yang dikembangkan dan dimanfaatkan oleh masyarakat untuk meningkatkan mutu lingkungan hidup.
4. Peningkatan status gizi masyarakat berkaitan dengan peningkatan status sosial ekonomi masyarakat.
5. Penurunan angka kesakitan dan kematian dari berbagai sebab dan penyakit.




PENGKAJIAN

Kegiatan yang dilakukan dalam pengkajian adalah :
1. Pengumpulan data, yang meliputi :
A. Data umum
- Lokasi daerah binaan
- Keadaan geografi
- Luas wilayah
- Pola demografi
B. Data Khusus
1. Data Kulturar
a. Tingkat pendidikan
b. Pekerjaan
c. Tingkat sosial ekonomi
d. kebudayaan dan kebiasaan
2. Data Kesehatan (cakupan pelayanan kesehatan)
a. Kesehatan ibu dan anak
b. Keadaan gizi masyarakat
c. Keluarga berencana
d. Imunisasi
e. Penyakit-penyakit yang pernah diderita
3. Keadaan kesehatan lingkungan
a. Perumahan
b. Sumber air bersih
c. Tempat pembuangan sampah (TPS)
d. Pembuangan air kotor
e. Jamban dsb
4. Peran serta masyarakat (PSM) dalam upaya kesehatan yang dijalankan
5. Sumber daya masyarakat (SDM)



PENGOLAHAN DATA

Langkah-langkah kegiatan pengolahan data :
1. Klasifikasi / kategori data
2. Perhitungan prosentase cakupan telly
3. Tabulasi data
4. Interprestasi

Analisa Data
Analisa data adalah kemampuan untuk mengkaitkan data dan menghubungkan data dengan kemampuan kognitif yang dimiliki sehingga dapat diatasi sekaligus. Oleh karena itu diperlukan prioritas masyarakat.

Prioritas Masyarakat
Dalam menentukan prioritas masalah perawatan dan kesehatan masyarakat perlu mempertimbangkan berbagai faktor sebagai kriteria, diantaranya adalah :
1. Perhatian masyarakat
2. Prevalensi
3. Berat ringannya masalah
4. Kemungkinan masalah untuk diatasi
5. Tersedianya sumber daya masyarakat
6. Aspek politis

Diagnosa Keperawatan (DP)
Dp ditetapkan berdasarkan masalah yang ditemukan. Diagnosa keperawatan akan memberikan gambaran tentang masalah tentang status kesehatan masyarakat baik yang nyata (aktual dan yang mungkin akan terjadi potensial atau resiko tinggi). DP mengandung komponen utama, yaitu :
1. Problem (P)/Masalah; yang merupakan kesenjangan atau penyimpangan dari keadaan normal yang seharusnya terjadi atau kesenjangan antara yang seharusnya dengan yang keadaan yang terjadi.
2. Etiologi (E)/Penyebab; menunjukkan penyebab maskes atau maskep yang dapat memberikan arah terhadap intervensi keperawatan, yang meliputi Etiologi meliputi :
a. Perilaku individu, keluarga, kelompok masyarakat
b. Lingkungan fisik, biologis, psikologis, sosial
c. Interaksi perilaku dengan lingkungan
3. Sign (S)/ Tanda dan gejala
a. Informasi yang perlu untuk merumuskan diagnosa
b. Serangkaian petunjuk timbulnya masalah
Untuk menegakkan DP minimal harus mengandung 2 komponen tersebut diatas disamping mempertimbangkan hal-hal sebagai berikut :
1. Kemampuan masyarakat untuk menanggulangi masalah
2. Sumber daya yang tersedia dari masyarakat
3. Partisipasi dan peran serta masyarakat (PSM)

Contoh Diagnosa Keperawatan (DP)
1. Tinggi angka kematian ibu (AKI) sehubungan dengan kurangnya pelayanan anternatal ditandai dengan rendahnya tingkat pengetahuan dan sosial ekonomi keluarga, anemia dan kebiasaan kawin muda.
2. Tingginya angka kematian perinatal sehubungan dengan kurangnya pengetahuan masyarakat dalam pemeliharaan tali pusat serta pertolongan persalinan oleh dukun terlatih.
3. Tingginya angka kesakitan karena diare sehubungan dengan lingkungan masyarakat yang buruk ditandai dengan banyaknya sampah yang berserakan, penggunaan sungai sebagai tempat mencuci, mandi dan pembuangan kotoran (kakus)/ MCK.










PERENCANAAN

Perencanaan askep kesehatan masyarakat disusun berdasarkan DP yang telah ditetapkan. Rencana keperawatan yang disusun harus mencakup :
1. Merumuskan tujuan keperawatan yang ingin dicapai
2. Rencana tindakan keperawatan yang akan dilaksanakan
3. Kriteria hasil untuk menilai pencapaian tujuan

Merumuskan Tujuan
Kriteria Rumusan Tujuan :
1. Berfokus kepada masyarakat
2. Jelas dan singkat
3. Dapat diukur dan observasi
4. Realistik
5. Waktu relatif dibatasi (jangka pendek, menengah, dan panjang)
6. Melibatkan peran serta masyarakat (PSM)

Formulasi rumusan tujuan keperawatan
1. Satuan subjek (masyarakat)
2. Perilaku masyarakat yang dapat diamati
3. Satuan predikat (kondisi) yang melengkapi perilaku masyarakat
4. Kriteria untuk menentukan pencapaian tujuan formulasi :
T (Tujuan) = S + P + K.1 + K.2
Contoh
1. Masyarakat dapat membuat bak penampung sampah umum melalui swadaya masyarakat secara gotong royong dalam jangka waktu 1 bulan.
2. Masyarakat dapat melakukan upaya-upaya pencegahan terjadinya penyakit demam berdarah dengan jalan memebersihkan faktor-faktor yang dapat berkembangbiaknya nyamuk Aedes Aegepty melalui kerja bakti.



Subjek = Masyarakat
Predikat = Membuat bak penampung sampah umum
Kondisi = swadaya dan gotong royong
Kriteria = dalam jangka waktu 1 bulan

Rencana tindakan keperawatan
Langkah-langkah dalam perancanaan perawatan kesehatan masyarakat
1. Identifikasi alternatif tindakan keperawatan
2. Tetapkan teknik dan prosedur yang akan digunakan
3. Libatkan PSM dalam menyusun perencanaan (musyawarah masyarakat desa / MMD, lokakarya mini/Lokmin)
4. Pertimbangkan sumber daya dan fasilitas yang tersedia
5. Tindakan yang akan dilaksanakan harus dapat memenuhi kebutuhan yang akan dirasakan masyarakat.
6. Mengarah kepada tujuan yang akan dicapai
7. Tindakan harus bersifat realistis
8. Disusun secara berurutan

Kriteria dalam perencanaan
1. Memakai kata kerja yang tepat
2. Dapat dimodifikasikan
3. Bersifat Spesifik
  1. Siapa yang akan melakukan
  2. Apa yang akan dilakukan
  3. Dimana dilakukan
  4. Kapan dilakukan
  5. Bagaimana melakukan
  6. Frekuensi melakukan
Contoh : masyarakat dapat membuat bak penampung sampah umum melalui swadaya masyarakat secara gotong royong dalam jangka waktu 1 bulan



Rencana Tindakan
  1. Memberikan penyuluhan kesehatan
  2. Pendekatan terhadap tokoh-tokoh masyarakat (TOMA) formal dan informal untuk menggalang dukungan
  3. Libatkan partisipasi dan peran serta masyarakat (PSM) dalam mencari dana pembuatan bak samapah umum melalui dana upaya kesehatan masyarakat (DKM)
  4. Tetapkan waktu peresmian pembuatan bak samapah umum oleh kepala esa dan pemuka masyarakat lainnya.
  5. Melalui tokoh masyarakat (TOMA) formal dan informal menghimbau dan mengajak masyarakat secara gotong royong membangun bak sampah
  6. Kerjasama dengan instansi terkait untuk mendapatkan bantuan teknis pembuatan bak sampah yang memenuhi syarat kesehatan (tenaga sanitarian)

1 komentar:

Poskan Komentar